![]() |
| Ratna Sarumpaet saat diamankan di Bandara Soekarno Hatta. |
Jakarta, SJB-Apa dibalik pengakuan Ratna Sarumpaet, mengaku atas kebohongannya. Perlu ditelusuri secara mendalam, karena drama hal seperti ini patur kita apresiasi, karena pengakuan yang jujur, tanpa ada tindakan hukum.
Ratna Sarumpaet, awalnya meakukan operasi Plastik disalah satu Rumah Sakit, namun ketika Ratna Pulang kerumah mendapat pertanyaan dari anak tentang kondisi muka yang membengkak.
Akhirnya Ratna mengatakan kepada anaknya bahwa ya dikeroyok sekelompok orang di Bandung. Namun Dia tidak menjelaskan siapa pelakunya.
Sesudah itu, muncul dibeberapa Mensos beredar Photo Ratna Sarumpaet, dengan kondisi muka membengkak, seolah olah ada terjadi pemukulan terhadap dirinya.
Sehingga muncul pendapat dan menyakinkan kejadian itu. Hal ini membuat gempar pendapat dan kepedulian terhadap Ratna Sarumpaet.
Namun tiba-tiba Ratna Sarumpaet, menyampaikan keterangan Pers, bahwa dia adalah berbohong. Namun kehadiran bohongnya mengaku secara tidak sadar mmengeluarkan ucapan kebenaran itu.
Menyikapi persoalan ini, baik menerima informasi, atau menanggapinya, sebaiknya disarankan agar Ratna Sarumpaet atas kejadian yang menimpanya agar melakukan pemeriksaan Fisum.
Sebelum mengeluarkan pernyataan atas kebohongan Ratna, setelah hasil fisum diperoleh, maka hasil yang sebenarnya dapat diketahui sebab dan akibatnya.
Kesalahan fatal, setelah mendengar berita dari pengakuan Ratna, bahwa dia mengaku dipukuli orang yang mengikatkan bagian muka mengalami gangguan.
Muncul Pernyataan Keterangan Pers sehingga Publik, merasa yakin bahwa kejadian itu memprihatinkan. Dikemudian hari Ratna akan mengumumkan melalui keterangan Persnya bahwa dia melakukan Pembohongan terhadap kejadian pada dirinya.
Akhirnya muncul keterangan Pers minta maaf kepada Publik. Oleh karena itu, Peristiwa ini dapat dijadikan pembelajaran dimasa yang akan datang.
Karena Hoax, atau informasi belum dapat dikategorikan kepastian. Guna mendukung informasi tersebut perlu dilakukan Fisum dari dokter membuktikan kebenaran, atau dilakukan cek and ricek atas kejadian.
Lalu dapat diumumkan ke Publik. Jika hal ini dilakukan kita terlepas dari kebohongan. Hoax,opini, info belum dikategorikan sebagai berita yang positip namun untuk membuktikannya perlu dilakukan pengecekan, apakah benar kejadiannya.
Jika benar dibuktikan dengan fisum, barulah menjadi berita yang dapat ditindaklanjuti oleh pihak Kepolisian untuk melanjutkan proses hukum.
Namun yang menjadi perhatian Publik, seperti kasus Ratna Sarumpaet, awalnya hanya bersifat sederhana namun dibesarkan oleh Pengakuan Bohong menjadi perhatian Publik. Sehingga gempar, ternyata Ratna mengaku melakukan Pembohongan atas kejadian dirinya.
Lalu bagaimana, pernyataan Pers yang sudah terlanjur, mengakibatkan kurangnya kepercayaan, dan kurang teliti atas informasi yang diterima mengakiibatkan muncul beberapa pendapat apa motif Ratna melakukan hal ini.
Kita serahkan kepada pihak kepolisian untuk menuntaskannya. Pemimpin Redaksi SJB.Jakasim Purba, menyikapi peristiwa ini, membuat gerah, karena terlalu cepat kita menanggapi sebuah informasi, tanpa ada melakukan pengecekan kebenaran dari informasi tersebut.
Sehingga kebenaran simpang siur. Untung saja Ratna mengaku bahwa perbuatannya adalah bohong, lalu bagaimana resiko yang menyebarluaskan berita ini, kita tunggu proses hukum dari Kepolisian.
Hendaknya, setiap pemberitaan dan menerima informasi apapun sebaiknya dilakukan pengecekan atas kejadian. Lalu dapat diberitakan ke Publik. Oleh karena itu, mari kita hilangkan rasa kebencian dan kebohongan didalam kehidupan dimasa yang akan datang.(Fah)
