Simalungunn, SJB-Peristiwa KM.Sinar Bangun, dan KM.Rosa Risma Marisi, perlu perhatian Pemerintah Kabupaten Simalungunn, agar jangan terulang kembali, demikian diungkapkan Bupat Simalungun. JR.Saragih, ya menghimbau kedepannya akan dilakukan perbaikan pengawasan terhadap Kapal yang beroperasi di Danau Toba.
Berdasaarkan dari berbagai sumber yang dikumpulkan SJB, bahwa Danau Toba itu mmempunyai budaya dan etika, yang harus dapat dipahmi bagi setip pengusaha, serta menjaga sopan santun, sehingga tidak menimbulkan hal hal yang tidak kita inginkan.
Danau Toba dalam sejarah adalah sangat indah dan bersih. bahkan para toris dari luar negeri dan dalam negeri berdatangan ke Danau Toba menggunakan Mobil Toour, sebagai sarana angkutan,kini keberadaan angkutan toris nyaris tidak kelihatan lagi, oleh karena itu perlu Pemerintah turun tangan untuk memperbaiki mutu pelayanan, serta meningkatkan pembangunan di Daerah Danau Toba.
Disamping itu, terlihat beberapa pelabuhan, dikawasan Danau Toba, seperti Haranggaol, Tiga Ras, yang menghubungkan dari Kabupaten Simalungun dengan Samosir perlu dikembangkan sarana pelabuhan, serta membuat himbauwan disetiap Pelabuhan, agar dicantumkan etika penumpang di setiap Kapal, agar jangan ada perbuatan yang menyimpang etika budaya Danau Toba.
Budaya Danau Toba yang kita kenal adalah Danau yang indah dan bersih, sehingga terkenaal ke mancanegara keberadaan obyek wisata Danau Toba. Tampak di Prapat sepanjang kawasan Danau Toba di Prapat sudah bermunculan beberapa bangunan seperti Hotel dan lainnya, perlu ditata kembali ijinnya, apakah berbentuk Hotel atau Penginapan, atau Restoran ?
Hal ini dilakukan sebagai pemikiran masa depan Danau Toba yang indah jangan sampai rusak akibat perbuatan dan prilaku manusia yang tidak memandang etika dan budaya.Danau Toba.
Sebagaimana catatan Pemimpin Redaksi Sinarjambibaru, Budaya Danau Toba terkenal dengan ikan jahir dan cukup dirasakan para penduduk dilingkungan Danau Toba, namun setelah muncul upaya pemerintah menyiram bibit udang, terjadi pergeseran ikan jahir menjadi berkurang, karen budaya ikan jahir dengan udang tidak mempunyai kebersamaan di Danau Toba, kini udang menghilang dan ikan jahirpun tidak terlihat seperti dahulu. Hal ini perlu dikaji Pemerntah Kabupaten Simalungun, dan Pemerintah Kabupten Samosir, demi masa depan Danau Toba.
Pemimpin edaksi Sinarjjambibaru Jakasim Purba Girsang, disaat tahun baru 2017 berkunjung ke Prapat, terlihat dikawasan pinggiran Sungai di Danau Toba kurang bersih dan perlu ada perawatan, baik berupa sampah, agar dilakukan perawatan.
Disamping itu, beberapa bangunan dikawasan Prapat, perlu mengkaji keberadaan Danau Toba, agar jangan menelan korban, antara lain. pembangunan perumahan, Hotel, dan Penginapan, serta dermaga, hendaknya perlu dihimbau agar jangan sembarang membuang sampah dan limbah bangunan ke Danau Toba.
Pemerintah Perlu menghimbau kepada pengusaha Kapal didaerah itu, agar mematuhi aturan kapal, antara lain jangan melebihi muatan, dan setiap penumpang harus memiliki Tikket, dan jasaraharja untuk setiap penumpang, agar jaminan penumpang ditanggung oleh Asuransi jasaraharja.(JKP)
